Tuesday, September 12, 2006

With Azyumardi Azra in Hawaii September 2006


Bersama Prof Azyumardi Azra di Hawaii, yang diundang Seminar tentang Pendidikan Tinggi sebagai Milik Publik dan Privatisasi di East-West Center, saya mendapat banyak pengetahuan dan pengalaman yang dishare secara santai dan terus terang. Semoga kebersamaan ini menambah motivasi saya untuk terus mengembangkan ilmu dan integritas kepribadiaan yang amat mahal itu. I hope that exchange of views and experiences with Pak Azra helps me strengthen my dedication to knowledge and its development in the future for the benefit of humankind and the universe.

Belajar dari Kak Edy

Oleh: Muhamad Ali

Kak Edy, begitulah kolega yunior biasa memanggilnya. Sebagian memanggilnya Pak Azyumardi, dan orang di luar negeri Prof. atau Dr. Azra. Kami, mahasiswa dan dosen muda yang sedang studi di luar negeri, terus belajar banyak dari kiprah Kak Edy sebagai cendekiawan Muslim yang diakui dalam bidangnya, sejarah, dan kajian-kajian Islam, juga sebagai duta Islam di dunia Barat, dan sebagai manajer perguruan tinggi yang berhasil.

Cendekiawan Muslim
Dalam sebuah kesempatan, Prof Nurcholish Madjid (almarhum) memuji Kak Edy sebagai rektor dan cendekiawan yang paling sering dimintai pendapat-pendapatnya mengenai berbagai isu sosial keagamaan dan politik. Sebagai cendekiawan Muslim, Kak Edy punya wawasan luas, menerawang ke banyak sisi yang sering luput dari pengamatan banyak orang.

Dengan koleksi perpustakaan pribadi sekitar 20 ribuan saat ini, buku memang jadi teman dekatnya. Kak Edy sangat mencintai buku. Anak-anaknya ketika ulang tahun diajak ke toko buku dan disilahkan membeli buku. Bahkan untuk kemudahan akses, sudah ada on-line library sehingga kalangan akademik dan masyarakat bisa memanfaatkannya. Kak Edy sangat produktif menulis. “Saya menulis sebelum dan sesudah Subuh, karena inilah waktu yang terbaik buat saya”, dan karena itu saya berusaha tidur tidak terlalu malam.” Di manapun pergi dia coba membaca dan menulis. Kesibukan sebagai pejabat tidak membuatnya enggan menuangkan pikiran-pikirannya.

Banyak mahasiswa dan dosen muda yang meminta surat rekomendasinya untuk bisa mendapatkan beasiswa studi di luar negeri. Berpuluh-puluh, bahkan mungkin ratusan penulis, baik politisi maupun akademisi, memintanya untuk menulis kata pengantar buku-buku mereka dari berbagai disiplin ilmu. Ada kepuasan intelektual ketika penulis mendapatkan pengakuan Azyumardi Azra lewat kata pengantarnya.

Duta Islam di Barat

Seperti Ketua Umum Muhammadiyah sekarang Prof M. Dien Syamsuddin, dan Ketua PB Nahdlatul Ulama, KH Hasyim Muzadi, peranan kak Edy sebagai juru bicara Muslim Indonesia sudah dikenal dunia. Karena kemampuannya membaca sejarah dan peristiwa kontemporer, banyak cendekiawan dan diplomat di Amerika Serikat (AS) dan di Negara-negara lain memuji. Contohnya, seorang pengamat politik asal AS pernah menulis, “Pak Azra selalu memberi nilai tambah dalam setiap pertemuan mengenai Islam.” Seorang yang lain mengatakan, “Kami sangat berterima kasih atas kesediaan Pak Azra mengikuti konferensi ini.” Dan seorang profesor pernah berkata, “He is very knowledgeable and smart”.

Dalam konferensi dan tulisannya, Kak Edy menekankan bahwa Islam di Indonesia itu moderat dan anti kekerasan apalagi terorisme. Media dan pemerintah Barat masih banyak yang tidak paham ajaran Islam yang mencintai perdamaian, dan tidak paham bahwa mayoritas Muslim di dunia, terutama di Asia Tenggara, adalah moderat. Karena itu kerjasama internasional, dari berbagai agama dan ideologi politik, sangat diperlukan untuk dapat memenangkan perang melawan terorisme itu.

Kak Edy berusaha berpikir dan berpendapat obyektif sesuai dengan wawasannya. Dia berkata, “Janganlah anti Amerika secara membabi buta; kita harus kritis terhadap Amerika secara obyektif, terhadap kebijakan-kebijakan pemerintahnya yang membahayakan, tapi kita juga perlu menghargai peran Amerika dalam pendidikan dan kerjasama-kerjasama dalam berbagai bidang.”

Pak Azra adalah sosok dengan jaringan akademik dan pemerintahan yang luas. Dengan jaringan itulah, kerjasama-kerjasama pendidikan bisa lebih mungkin. Kepemimpinan terasing dan eksklusif tidak akan membantu perkembangan lembaga pendidikan tinggi. Kerjasama bisa terbuka, tidak hanya dengan Amerika Serikat, tapi juga Iran, bahkan Rusia, Cina, Timur Tengah, dan sebagainya, sejauh bertujuan mengembangkan ilmu pengetahuan.

Ketika ditanya mengapa sering ke luar negeri, Kak Edy menjawab hal itu demi pencitraan Islam Indonesia atau Asia Tenggara, Indonesia yang majemuk dan moderat, sekaligus memajukan institusi universitas yang dipimpinnya. “Datang saja ke kampus di Ciputat”, begitu jawabnya ketika orang mempertanyakan kenapa sebagai rektor dia sering ke luar negeri. “Saya tidak suka jalan-jalan, ketika diundang ke seminar-seminar ke berbagai Negara, paling-paling saya berada di tempat konferensi dan hotel tempat menginap. Saya menggunakan uang dinas untuk kepentingan dinas, dan tidak mau menggunakan uang dinas untuk kepentingan jalan-jalan, tinggal di hotel mewah, belanja, dan seterusnya. Saya menyempatkan ke toko buku.”

Manajer Perguruan Tinggi

Kerjasama-kerjasama internasional dibawah Pak Azra memang fenomenal, dari banyak pemerintah dan lembaga-lembaga swasta. Fakultas Kedokteran misalnya mendapat bantuan dana dari sebuah lembaga Jepang. Bahkan Library of Congress siap membantu perpustakaan kampus Universitas Jakarta. Seorang sejarawan Merle Ricklefs misalnya sudah berwasiat akan memberikan seluruh bukunya jika wafat nanti ke perpustakaan UIN Jakarta.

Terhadap para karyawan di kampus Pak Azra punya perhatian besar. “Jangan kita menuntut satpam untuk bekerja keras tapi gajinya sangat tidak manusiawi.” Dia merasakan korupsi sistemik di kalangan pejabat di departemen-departemen, disebabkan banyak faktor selain lemahnya penegakkan hukum, adalah gaji yang tidak layak. Korupsi para pejabat, politisi, dan masyarakat sudah akut, sehingga tugas pemberantasan korupsi juga harus melibatkan para moralis dan agamawan yang bergerak secara subtantif, dan bukan sekedar formalistik ritualistik.

Kak Edy telah berhasil mentransformasi institut yang awalnya hanya ilmu-ilmu agama konvensional menjadi Universitas Islam Negerti (UIN) yang berusaha mengintegrasi ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum, sesuai yang dimandatkan, dan menbangun sistem pendidikan tinggi yang lebih baik, UIN menjadi universitas riset internasional di masa depa. Dengan keterbatasan yang masih ada, terutama sumber daya manusia pengajar dan karyawan, Kak Edy berharap UIN mampu mengejar ketinggalan dan berkompetisi dengan universitas-universitas lain yang lebih dahulu mapan.

Setelah rektor nanti, Kak Edy akan tetap berkiprah, akan terus membaca, menulis, dan memberikan sumbangan pemikiran bagi kemaslahatan umat dan bangsa. Kami belajar banyak dari Kak Edy, seperti dari banyak tokoh lainnya yang telah dan terus berjasa bagi pencerahan kehidupan bangsa. Bangsa ini butuh lebih banyak lagi cendekiawan pemimpin yang berdedikasi pada pengembangan ilmu pengetahuan dan keterlibatan aktif membantu bangsa ini keluar dari krisis multidimensi.

No comments: