Saturday, February 21, 2009

Gaji dan Kinerja Dosen

soal perbandingan antara dosen muda IAIN/UIN, ITB, dan dosen muda di luar negeri. Topik ini bisa jadi artikel di Kompas atau Jakarta Post nih. hehe. tapi di sini aja karena kebetulan disinggung. Di semua tempat itu, ada hubungan antara gaji dan kinerja dosen (tridarma PT dimana-mana sama: ngajar, riset, ngabdi ke publik). Di IAIN Jkt, saya ingat dulu 180 ribu gaji pertama saya, cukup besar pada tahun 1998, tapi memang kurang untuk hidup di Jakarta; nah, "ngamen" menulis, dan undangan sana sini cukup membantu. Lalu dari beasiswa ke beasiswa juga cukup membantu. Tapi ternyata, bukan jumlah uangnya, justru keterampilan lah yang membuat kita survive. Apakah menulis, atau bagi yang ahli ceramah, atau berorganisasi, dan sebagainya. Keterampilan yang terus diasah, otak yang selalu dipakai, hati yang selalu dibersihkan. Di luar negeri, memang nominal gaji itu sangat besar dibanding dengan di Indonesia, tapi pengeluaran/kebutuhan di LN (termasuk pajak ini dan itu, asuransi ini dan itu) sangat besar juga. Di LN, seorang dosen muda, pilihannya juga sewa rumah, atau beli rumah dengan cara mortgage (atawa kredit sampai 30 tahun atau lebih, karena harga rumah yah milyaran lah), nah dosen muda di Indonesia kan sudah banyak yang punya atau beli rumah, tanpa harus ada beban kredit tiap bulan selama 30 tahun. Hal lain, dosen-dosen di LN mandiri dalam banyak hal: nyupir sendiri, kadang masak dan laundry sendiri, laki-laki maupun perempuan, semuanya serba mandiri. Nah di Indonesia kan, banyaklah yang punya supir, pembantu, dan minta tolong orang sana orang sini, karena memang secara kultural dan demografis berbeda. Ada banyak hal lain juga yang menunjukkan bahwa dedikasi, mentalitas, dan keterampilan lah yang menentukan hidup yang produktif, konstruktif dan cerah dan mencerahkan.

Jadi gaji dan kinerja itu relatif dan kontekstual juga. Dedikasi seorang dosen bisa sangat besar terlepas dari gaji yang secara relatif. (Saya jadi ingat guru Muslimah di Belitung seperti dinovelkan/difilmkan Laskar Pelangi). Masa depan cerah dan suram tergantung banyak faktor yang tidak bisa direduksi hanya pada masalah gaji.

Belakangan saya melihat di banyak kampus di Indonesia ada kesadaran dan peningkatan perhatian terhadap masalah gaji ini. Semoga upaya-upaya ini bisa membantu mengangkat kinerja para dosen, meskipun, seperti pengalaman saya, yang paling penting adalah dedikasi dan keterampilan mencipta dan menghasilkan yang bermanfaat. Mentalitas lah yang paling penting. Karena bisa saja nanti meskipun gaji dosen sudah memadai, tapi ngamen sana sini tetap jalan, perhatian terhadap mahasiswa tidak bertambah baik, penelitian tidak juga menjadi kebiasaan, menulis juga tidak meningkat, kebiasaan menonton dan ngomong lebih kuat. Lalu, apa fungsinya gaji naik itu kalo pola pikir dan mentalitas dosen kita tidak mengalami suatu "paradigm shift" (mengutip Thomas Kuhn)?

4 comments:

zam said...

Hehe..sebelum membaca tulisan ini, kita sempat chating soal sertifikasi dosen yah? Jadi rada nyambung gitu...

Muhamad Ali said...

tul.

tikno said...

betul mas...hanya sekedar saran saja untuk guru/doses/pengajar atau apalah sebutannya. Harus ingat, kalau kita bekerja dengan ikhlas....kita sebenarnya dapat 2 gaji tiap bulan...yang cash dan yang ditabung.Yang cash berbentuk uang, sedangkan yang ditabung .....(kita sendiri belum tahu berbentuk apa, tapi yakin bahwa itu hal yang sangat berharga)....binggung???? dari siapa??? dari Alloh SWT (insyaAlloh)...Amin.

nb. Minta ijin memasang alamat blog anda.

draharjo said...

Kebetulan saya baru satu semester mengajar di salah satu pts di jakarta, sebelumnya saya menjadi dosen tetap di negara tetangga satu rumpun.

Dalam hal belajar mengajar saya merasakan kepuasan yg jauh lebih besar disini, krn bisa lebih komunikatif dgn mahasiswa (yah mungkin kalau mengajar bangsa sendiri spirit membangunnya lebih dapet)

Tapi di sisi lain, soal pendapatan kok ya amat sangat menyedihkan. Bagaimana mungkin di negara tercinta ini, tarif dosen lebih rendah dari tarif PSK. Dihitung relatif berdasarkan perjam kerja dan kemungkinan maksimal per satu bulan kerja. Ironis!