Tuesday, May 06, 2008

Interfaith Dialogue at Campus

I was invited to talk about interfaith issues by the Muslim Students Association of UCR, inviting Jewish, Christian, Buddhist, and Hindu students at 5:00 - 7 pm, May 6, 2008. First I gave a lecture about why we need to promote interfaith understanding, dialogue, and cooperation in the U.S. and elsewhere. I reasoned that differences have not been appreciated by different religious peoples and commonalities have been surpressed. Differences have been stressed by many leaders and preachers to promote the self at the expense of the others. Thus, politics of identity became strengthened for the sake of self-identity, while the ultimate reality and substantive values such as peace, justice, equality, the well-being, getting job, being healthy, becoming educated and so forth have been ignored. Also, religion has been used for good and evil, but its positive and constructive roles have been undermined by the action of a handful of people of religious individuals and groups. Religion has been the important element in creating and perpetuating mutual mistrust, sectarian pride, racism, and chauvinism. Finally, I argued that global, regional, and national politics have overshadowed the serious learning and studying and teaching of various belief systems in history and today.

I came up with some suggestion about how we can do interfaith dialogue. First, scriptures have to be understood contextually, comparatively, and morally. Every single religious community has the ultimate claim about their sacred scriptures; therefore, there must be some truth on all claims. Secondly, religious communities have to emphasize partnership and competition in good. "O Mankind! We created you from a single pair of male and a female, and made you into nations and tribes, that ye may know each other. Verily the most honored of you in the sight of God is the most righteous of you. God has full knowledge and is well-acquainted." (Al-Hujurat:13). I stressed the idea of "ye may know each other", and the idea of pluralism as God's plan. I also talked about how among God's signs is the creation of the heavens and the earth and the plurality of languages and colors (Qur'an: 30:22). Ethnic identity, national identity, religious identity are important for many, but universal brotherhood is no less important without necessary contradictions.

The students came up with very interesting questions, such as the meaning of prayer, the idea of tolerance despite the idea of mission in all religions (I discussed the verse on the da'wa: call to the way of God through wisdom, good lessons, and best dialogue), the idea of prophets before and after Muhammad, the concept of Trinity, the idea of forgiveness, the attitude of Islam toward Jesus as the savior of the world, the attitude of Islam toward non-theistic religions such as Buddhism, and the comment by a participant about how Islam is a great religion if it stresses humanistic values as exemplified in the Quran and Muhammad examples. I stressed that commonalities are numerous, and it is not human's task to judge other faiths based on his or her religious scripture. The differences in particular aspects of belief is to be judged by God alone because He is the only one who knows best. The task of humankind, of any faith, including of the disbeliever, is to strive in goodness.

I truly enjoyed the discussion, as some in the room said to me that they enjoyed this too.

Sunday, May 04, 2008

Indonesia Without Violence and Discrimination: Commemorating The Tragedy of May 1998

Seminar and Vigil
Toward New Indonesia without Violence and Discrimination
10th Commemoration of May 1998 Humanity Tragedy in Indonesia

When May 1998 Humanity Tragedy occurred,
where were you? Do you remember it?
What have the world and Indonesian government done to bring justice?
Let's prevent such things from happening again in the future
by creating new Indonesia without violence and discrimination.
Come and attend the seminar, vigil, pictures display, and short movie.

Saturday, May 10, 2008 at 06:00 PM
4561 American River Dr.
Sacramento, CA 95864

Speakers:
Dr. Muhamad Ali
(Religious Studies Department, University of California Riverside)
Mutiara Andalas, SJ
(Author of "Kesucian Politik: Agama dan Politik di Tengah Krisis Kemanusiaan")
Rev. Agustinus Tiwa, M.Div.
Mediator:
Rev. Dr. Aart van Beek

AND

Sunday, 5:15 PM
Minggu, 11 Mei 2008
550 W Estudillo AveSan Leandro, CA 94577
(St. Leander Church's Auditorium

Pembicara
Drs. Eddie Lembong (Ketua Yayasan Nation Building/NABIL, Indonesia)
H. Yudhistiranto Sungadi (Konsul Jenderal Republik Indonesia di San Francisco)
Dr. Muhamad Ali (Religious Studies Department, University of California Riverside)
Mutiara Andalas, SJ (Penulis buku "Kesucian Politik: Agama dan Politik di Tengah Krisis Kemanusiaan")


For further information, please contact:
Herning Grissom, bhbmgrissom@yahoo.com, (916) 485 1215
Laura Lumenta, lumentab@yahoo.com, (916) 718 2718
Surya Sitanggang, kutimaikam@yahoo.com, (916) 813 8518
Mutiara Andalas, SJ, mutiaraandalas@yahoo.com, 510 665 4067
Dr. Beni Bevly, benibevly@yahoo.com, 650 255 0383
www.OverseasThinkTankforIndonesia.com – http://www.peacefulindonesia.com/

Host and Co-Host:
Bolaang Mongondow - Sangihe Talaud - Minahasa (BOSAMI), Tony Lolong
Overseas Think Tank for Indonesia (OTTI), Dr. Beni Bevly
Indonesia Media, Arnold Lukito dan Dr. Irawan
Indonesian Chinese American Network (ICANet), Peter Phwan
Chinese Community of San Leandro (CCSL), Hendy Wijaya
Jakarta Butuh Revolusi Budaya (JBRB), Tasa Nugraza Barley, MBA

Friday, May 02, 2008

Bernard Lewis tentang "Studying the Other"

Ceramah mutakhir Prof. emeritus Bernard Lewis (Princeton University), mungkin bermanfaat bagi yang tertarik isu-isu Orientalisme dan "Middle Eastern and Islamic Studies".

http://www.asmeascholars.org/ASMEAConferenceHighlights/tabid/820/Default.aspx

Beberapa komentar singkat dari ceramah singkatnya itu,

1). Orang Arab/Islam/Turki tidak tertarik dengan peradaban lain, berbeda dengan para Orientalist Eropa. Sepanjang sejarahnya, bangsa Arab (Turki termasuk) tidak melakukan kajian-kajian luar Peradaban (kecuali penerjamahan filsafat Greek yang kemudian sangat membantu transmisi), dan juga tidak tertarik belajar tentang bahasa dan peradaban yang mereka kuasai (Afrika, Eropa, Asia).

2). Bahasa Arab berkembang semata-mata sebagai bahasa klasikal dan skriptural, seperti halnya Hebrew dan Aramaic, bukan sebagai 'bahasa modern", sehingga perkembangannya terbatas, tidak melampaui sebagai bahasa klasik dan skriptural, dan tidak mempengaruhi ilmu pengetahuan modern.

3). Menurut Lewis, ada beberapa hambatan terhadap perkembangan Studi Timur Tengah antara lain: a. postmodernism b. political correctness dan imposed orthodoxies, sehingga kajian Islam yang obyektif tidak berkembang c. multiculturalism

4). Lewis kembali melakukan kritik balik terhadap "Orientalism" ala Edward Said sebagai semata-mata bermotifkan imperialist. Menurut Lewis,Orientalism justru berperan dalam preservasi pengetahuan bangsa lain, penerjemahan, editing, publishing, dan sebagainya. Ada macam-macam Orientalism: philological, theological (classical Orientalism: ada manfaat dan keterbatasan), polemical (mempertahankan Kristen atas ancaman Islam), indisciplinary approaches (historican, political scientist, etc).

5) Lewis melihat adanya kecenderungan clash of disciplines (historical, political science, theology, etc), padahal mestinya menurut dia harus ada mutual recognition atau (menurut saya "rich fertilization").

6). Namun demikian, saya kira, Lewis masih melihat dikotomi Arab/Islam/Turki Usmani dan Erope/Barat sebagai berbeda secara diametral. Sejarah menunjukan kondisi diametral itu. Ada "karakter" historis bangsa Arab yang menyebabkan perkembangan kajian di dunia Arab tidak maju, berbeda dengan bangsa Eropa dan sekarang AS.

7). Lewis kurang/tidak mengakui kompleksitas dunia Islam di masa modern, dan masih melihatnya sebagai identik dengan the Arab world; Lewis tidak menyentuh perkembangan di luar the Middle East, seperti Asia (termasuk Asia Tenggara). Banyak pengkaji dari Asia Tenggara mulai memberikan perhatian terhadap Middle East, Eropa, dan Amerika, sehingga interaksi peradaban makin berkembang, dan dikotomi Timur-Barat mengalami pengaburan yang cukup berarti dalam tradisi ilmiyah.

8). Pendapat Lewis ini "melengkapi" pendapat postmodernist seperti Edward Said, seperti kita tahu. Ada semacam self-reflection dalam ceramah Lewis mengenai Orientalism dan kritik terhadap pembacaan post-modernist seperti Said yang melihat Orientalism semata-mata berkonotasi dominasi. Namun, tesis inti Lewis masih tetap: antagonisme bangsa dan peradaban Arab (yang identik dengan Islam) dan bangsa/peradaban Eropa (identik dengan Judeo-Christianity)

Thursday, May 01, 2008

Tentang "Ekonomi Islam"

Saya mendukung usaha intelektual untuk membangun "ekonomi Syariah", termasuk obligasi syariah, perbankan syariah, dan sebagainya, namun banyak hal yang masih perlu diteliti secara objektif dan lebih meyakinkan.

1. Ayat-ayat yang digunakan sebagai referensi sering kali ditafsirkan di luar konteks keagamaan dan moral yang menjadi maksud dari ayat-ayat tersebut; Ayat-ayat yang memuat istilah qardh, dharaba, dan sebagainya, yang sudah mengalami transformasi pemaknaan dari murni sekuler di zaman sebelum dan pada masa Qur'an kepada pemaknaan spiritual dan religius ditarik kembali kepada makna asalnya yang sekuler itu. Maksud saya, istilah-istilah perdagangan dan ekonomi yang memang menjadi ciri penting kehidupan sosial ekonomi periode Mekah tercerminkan dalam Al-Quran dan mengalami proses religiusasi term. Misalnya, dari sekedar qardh menjadi qardh hasan: hutang piutang "Kebaikan", yang sebelumnya sekedar hutang piutang saja.

Sementara itu, hadis-hadis Nabi yang lebih spesifik digunakan sebagai pendukung praktek ekonomi tertentu yang konteksnya bisa jadi sangat berbeda dengan zaman modern.

Menariknya, para ulama fiqh klasik dan abad pertengahan memang luar biasa dalam melakukan istinbath hukum dari ayat dan hadis, dan mungkin cocok untuk periode mereka namun kaum cendekiawan kita di zaman modern ini masih secara literal memahami produk fiqih itu dengan mengambilnya seolah-olah masih relevan untuk konteks zaman modern.

2. Label syariah untuk ekonomi, perbankan, obligasi, dan sebagainya (sehingga jadi "ekonomi syariah", obligasi syariah, dan seterusnya) agak problematik karena ternyata basis keilmuannya tetap saja ilmu dan teori ekonomi modern. Syariah masuk karena dimensi normatifnya dan ditambah ayat dan hadis, sementara basis keilmuan dan metodologi yah tetap "Barat". Kelemahan pelabelan syariah terhadap sistem yang sudah terlanjur "barat" mengandaikan seolah-olah penafsiran dan praktek perbankan yang berbeda sebagai "non-Syariah" dan karena itu syubhat atau bahkan haram. Saya belum bisa memahami upaya membedakan mana yang Islami dan mana yang konvensional. Dalam prakteknya, gagasan pembedaan "tanpa bunga" dan "profit sharing" ternyata tidak terlalu berbeda, yaitu mencari keuntungan melalui pemberian dan penerimaan manfaat sesuai dengan resiko dan usaha yang diambil masing-masing pihak.

3. Masalah riba sebagai "interest" atau bunga bank juga adalah reduksi makna riba yang lebih luas, saya kira. Yaitu ekploitasi. Riba dalam ayat-ayat tidak secara langsung dan jelas berarti "bunga". Tapi kebanyakan "pakar ekonomi Islam" selalu menyamakan riba dan bunga. Bukankah ada interpretasi lain untuk riba?

Ini dulu. intinya, problem saya terhadap gagasan dan praktek ekonomi syariah adalah klaim "Islam" terhadap sesuatu yang bersifat duniawi sehingga seolah-olah yang lain dan berbeda menjadi tidak Islami.

Labelisasi terhadap Islam

Labelisasi dan kategorisasi itu memang ada kelemahan dan kelebihannya. Allah saja juga suka buat label kok di Al-Qur'an (mu'min, kafir, munafiq, fasiq, ahlu kitab, musyrik, dan sebagainya; Nabi Muhammad juga begitu dalam Sunnah-nya ("Muslim adalah orang yang siapapun disekitarnya selamat dari lisan dan tangannya).

Perkembangan bahasa membuat labelisasi baru muncul: istilah moderat, liberal, progresif, dan sebagainya. Bagi mereka yang punya ideologi bahwa Islam adalah satu dan harusnya satu cenderung tidak suka label karena "akan memecah belah umat". Kenyataannya, orang Islam memang macam-macam, sejarahnya, ajaran-ajarannya, prakteknya, penampilannya, dan sebagainya. Mereka yang suka Islam warna warni, menganggap labelisasi memang tidak bisa terhindarkan. Karena kemajemukan adalah positif. Sebagaian lagi melakukan pembatasan label hanya pada label-label Al-Quran di atas, gak mau label-label yang berbahasa asing (Inggris misalnya). Lucunya label-label Al-Quran itu digunakan mereka juga kepada kelompok lain: misalnya, yang merasa "beriman" suka beri label ke orang lain "kafir", "musyrik"; Jadi tugas Allah tergantikan oleh manusia-manusia. Begitu juga label "bid'ah" oleh penganut Wahhabi, dan seterusnya.

Label jenis lain adalah label organisasi, seperti orang NU, orang Muhammadiyah, orang PKS, orang Persis, dan sebagainya. Ini biasanya dianggap lebih "obyektif" ketimbang label "fundamentalis" , "liberal", "moderat", dan sebagainya karena semata-mata istilah Inggris. Tapi toh semuanya yah label juga.

Kategorisasi adalah hal yang natural dalam sejarah sosial umat manusia. Yang penting, adalah sejauh mana label itu dipergunakan secara bertanggung jawab, bukan sebagai tuduhan ideologis tanpa pengkajian. Kebetulan saya sudah nulis soal kategorisasi ini dalam sebuah jurnal internasional di Paris (Moussons, 2007). Judulnya "Categorizing Muslims in Postcolonial Indonesia). Intinya, kategorisasi memang kerjaan manusia, tapi oke-oke saja asal jelas maksudnya. Seperti kata Claude Levi-Strauss: Words are instruments that people are free to adapt to any use, provided they make clear their intentions."

Labelisasi dan kategorisasi juga perlu untuk menyederhanakan realitas sosial yang kompleks. Dengan label, maka ada proses penyederhanaan sehingga komunikasi menjadi efektif antara berbagai kelompok manusia yang berbeda.

Label dan kategori juga tidak fixed, tidak tetap, bisa berubah dan kontekstual. Seperti contoh Santri, Abangan dan Priyayi oleh Geertz itu, kan juga dipakai oleh orang kita juga sejak abad ke-19 di Jawa, tapi harus dipahami bahwa santri, abangan itu berubah, dan tidak selalu jelas batas-batasnya. Ada santri yang suka selamatan dan ziarah kubur minta doa kiyai; ada abangan yang taat solat puasa dan haji.