Sunday, August 17, 2008

Kaitan Islam dan Muslim

Komentar singkat saya, pendapat Ameer Ali dibawah ini penting sekali agar ada proses ijtihad terus menerus di semua kalangan levelumat Islam, termasuk pengkhotbah dan pemimpin agamanya. Satu catatan saya,pembedaan antara Islam dan Muslim saya kira tidak terlalu bermanfaat. Seringkita baca "teroris itu kan orangnya, bukan agamanya." Atau, "yangkorup kan orangnya, agamanya tidak korup." "Orang Barat itu banyakyang takut Muslim, tapi tidak takut Islam." Dan semacamnya. Saya kira, dariperspektif sejara dan sosiologi agama, sulit dipisahkan antara manusia danagamanya. Barangkali lebih pas berpendapat: ada banyak penafsiran manusiaterhadap agama. Ada banyak Islam. Catatan kedua, bisa jadi, dan memang,problemnya juga terletak pada agama-agama itu sendiri: yang kontradiktif, yang kontekstual, yang multi-dimensional, yang multi-interpretable. Bukan sekedar manusia, kelompok, atau masyarakatnya, tapi agamanya.


http://cetak.kompas.com/sosok
Ameer Ali, Membuka Pemikiran Muslim Sabtu, 16 Agustus 2008 03:00 WIB LUKI AULIA

”Tidak ada fobiaIslam, yang ada fobia Muslim, melihat tingkah laku Muslim yang kerapemosional dan terlalu sensitif menanggapi masalah apa pun akibatpikiran yang tertutup.” Pernyataan ini dilontarkan intelektual Islammoderat, Ameer Ali, yang ditemui di sela International Conference ofIslamic Scholars atau ICIS, 29 Juli- 1 Agustus 2008, di Jakarta.Diera modern semestinya rasionalitas dan pikiran kritis dikedepankansehingga tak ada lagi bentuk kekerasan apa pun yang terjadi akibatemosi tanpa dasar.Pesan Ali untuk umat Muslim ini muncul darikeprihatinannya melihat banyak orang yang mulai berpaling dari Islam.Padahal, kata Ali, Allah SWT sama sekali tak membebankan kesulitan apapun terhadap umat-Nya dalam menjalankan ajaran agama Islam.Iniditegaskan dalam Al Quran Surah Al-Hajj Ayat 78: Dan berjihadlah kamudi jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilihkamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu agama yangmembuatmu dalam kesempitan (wa jaahidu fil-laahi haqqa jihaadih.Huwajtabaakum wa maa ja’ala a’alikum fiddiini min harajin).”Allahmembuat Islam mudah dipahami dan diikuti. Tetapi, kenapa sebagian ulamajustru membuatnya jadi sulit? Akibatnya, banyak yang menjauh dari Islamkarena dirasa sulit menjadi Muslim,” kata Ali, Wakil Presiden MajelisDakwah Islam Regional Asia Tenggara dan Pasifik (RISEAP) di Australiaitu.Berbagai bentuk kekerasan, terutama di negara Muslim, seakanmenjadi trademark Islam bagi negara Barat. Akibatnya, gambaran tentangIslam dan Muslim menjadi serba menakutkan. Padahal, yang berada dibalik segala bentuk kekerasan hanya segelintir Muslim yang berpandanganekstrem.Untuk memperbaiki citra Islam dan Muslim, Ali membericeramah dan dakwah mengenai Islam dan Muslim kepada siapa pun, termasukuntuk umat Nasrani di gereja-gereja Australia. Pertanyaan yang seringmuncul, antara lain, arti jihad dan kondisi perempuan.Karenamemiliki pandangan moderat, Ali yang pernah menjadi Presiden DewanIslam Federasi Australia itu lantas ditunjuk menjadi Ketua KelompokReferensi Komunitas Muslim pada era pemerintahan Perdana Menteri JohnHoward.Ia lantas menjadi duta Australia ke berbagai dialogantaragama internasional untuk membuka mata dan pikiran Muslim, sertaberusaha menyadarkan kembali pentingnya rasionalitas dalam memahamiIslam dan menginterpretasikan Al Quran.Menginterpretasikankembali Al Quran sesuai dengan konteks dan zamannya, menurut Ali,menjadi kunci penting untuk membuka pikiran Muslim agar lebih kritis.Ketidakmampuanuntuk menginterpretasikan Al Quran sesuai konteks dan waktunya hanyaakan membuahkan fanatisme, pandangan ekstremis, dan emosional tanpalogika. Padahal, Al Quran sebenarnya ada untuk memancing pemikirankritis yang tidak asal menerima mentah-mentah kata-kata yang ada didalamnya.Ali mengingatkan, ayat-ayat Al Quran diturunkan padazaman Muhammad SAW sehingga isinya pun menyesuaikan dengan zaman itu.”Kalau tidak tahu konteksnya, kita tidak akan tahu maksudnya. Kitaharus mengkritisi dan menginterpretasi lebih lanjut isi Al Quran. Iniindahnya Al Quran,” ujar ayah dari dua anak ini.Pengetahuan modernPersoalannya,justru sebagian ulama tradisional juga yang menutup pikiran Muslim,baik secara langsung maupun tidak langsung, dengan pemikiran atauajaran tradisional konvensional yang sudah ketinggalan zaman.Banyakulama tradisional tidak mendalami pengetahuan modern dan terpaku padaajaran yang sama selama berabad-abad. Padahal, jika ditilik dariartinya, ulama semestinya seseorang yang memiliki pengetahuan luas dantidak hanya terbatas pada pengetahuan agama.Jika seseorang inginmemahami Al Quran dengan baik dan lengkap sekaligus obyektif, dia harusmempunyai bekal latar belakang pemahaman ilmu sejarah, ekonomi,sosiologi, dan politik.Tren intelektual Islam yang sarat bekalilmu pengetahuan lengkap dan modern seperti itu, kata Ali, justru lebihbanyak muncul di negara-negara Barat.Meskipun demikian, menurutpandangan Ali, hal ini wajar mengingat banyak intelektual Islam yangterpaksa migrasi ke Barat. Di tempat ini mereka justru mendapatkesempatan luas untuk berpikir, berekspresi, dan mengeluarkan pendapat.Olehkarena itu, tidak berlebihan apabila dikatakan kebangkitan generasibaru Muslim kemungkinan akan dimulai dari Barat. ”Kalau kita tidakmempunyai latar belakang pengetahuan yang lengkap, akan sangat sulitmemahami Al Quran dan memecahkan misteri Allah yang ada di dalamnya,”kata Ali.Misteri Allah yang ada di dalam Al Quran dimaksudkanuntuk dibuka, dipecahkan, dipelajari, dan dikritisi. Al Quran adalahkitab untuk siapa pun pada segala zaman. Kitab yang bisa digunakanuntuk menjelaskan berbagai macam hal apabila diinterpretasikan sesuaikonteks dan zamannya.PendidikanMasalahnya,Al Quran sering kali justru terlalu dipuja, tetapi isinya takbenar-benar dipahami. Ali menilai persoalan umat Muslim ada padapendidikan.Minimnya pendidikan dan masih tingginya tingkat butahuruf di dunia Muslim, ditambah indoktrinasi selama berabad- abad olehkelompok ortodoks, telah melumpuhkan kemampuan rasionalisasi. Karenaitu, perlu ada pendidikan modern untuk mengembangkan daya pikir kritisagar bisa menganalisis persoalan dengan logis dan menghasilkan solusipraktis.”Ini tidak ada pada sebagian ulama tradisional,” kata Ali.Diakhawatir ulama tradisional justru akan memicu gerakan ekstremisme yangmuncul akibat pikiran yang tertutup. Khotbah-khotbah di masjid, kataAli, bisa berakibat buruk apabila ditelan mentah-mentah oleh Muslimyang pikirannya tertutup.Seharusnya khotbah-khotbah itu membahasisu-isu yang tengah hangat dan terkait dengan kehidupan sehari-hari.Imam juga diharapkan memberi semacam panduan bagi Muslim.”Sayayakin, sebagian ulama itu tak dengan sengaja membentuk pikiran ekstrem.Tetapi, isi khotbahnya yang sering kali memancing orang ke arah itu.Yang lebih parah, kita tak boleh membantah atau mengkritisi khotbah.Kita harus bisa menjaga anak-anak muda agar tidak sampai menelan ideyang keliru dan terjerumus dalam kekerasan,” kata Ali yang dikenalsebagai pakar ekonomi dan pembangunan di negara-negara Muslim.Carapaling efektif untuk mengantisipasi hal itu adalah lewat pendidikan.Untuk mendukung pendidikan perlu suasana demokratis sehingga masyarakatbisa diberdayakan. Padahal, mayoritas negara Muslim belum mempraktikkandemokrasi.”Ini tantangan kita. Allah tidak akan mengubah nasibsuatu bangsa kecuali kita mengubah diri sendiri. Caranya, denganmemberdayakan generasi muda dan wanita. Kita sudah tahu kelemahan kitadan akar masalahnya. Jangan salahkan orang lain, tetapi salahkan dirisendiri. Kita harus menjadi agen perubahan, tetapi harus ubah dirisendiri dulu,” kata Ali yang migrasi ke Australia pada 1977 karenaalasan politik itu.

2 comments:

Ibnu Islam said...

All your articles/writing very unfortunately proved that you are a devoted JIL proponent!

Muhamad Ali said...

Hi,

It would be more useful if you raise substance rather than labelling, which is not helpful at all.

What particular ideas that you want to discuss? I am always willing to learn and share.

Salam,